FIFPRO Kecam Keputusan FIFA soal Naturalisasi Pemain Malaysia

Table of Contents

FIFPRO, yang merupakan Federasi Internasional Asosiasi Pesepak Bola Profesional, mengeluarkan kritik tajam terhadap keputusan Komite Banding FIFA yang memberikan hukuman larangan bermain selama 12 bulan kepada seluruh pemain naturalisasi asal Malaysia.

FIFPRO menganggap para pemain sebagai korban kesalahan administratif, bukan sebagai pelaku pemalsuan dokumen sebagaimana yang disimpulkan oleh penyelidikan FIFA.

FIFPRO dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Senin (1/12), menyatakan bahwa hukuman yang diberikan FIFA kepada tujuh pemain Malaysia tersebut terlalu berlebihan.

“FIFPRO menganggap sanksi tersebut sangat tidak proporsional dan jauh melebihi batas wajar jika mempertimbangkan situasi dan kondisi khusus dalam kasus ini,” tulis FIFPRO.

FIFPRO menganggap hukuman skors selama 12 bulan terkait aktivitas sepak bola tidak proporsional dengan situasi sebenarnya, terlebih keputusan FIFA secara jelas mengakui bahwa dokumen pribadi yang diberikan oleh para pemain asli.

“Ketika tujuh pemain berada dalam kondisi yang sama secara persis, jelas bahwa kemungkinan kecurangan dokumen bukanlah tindakan individu,” tulis FIFPRO.

FIFPRO menekankan bahwa pemain seharusnya tidak bertanggung jawab atas dokumen pendukung yang dikirimkan oleh federasi ke FIFA. Pemain naturalisasi dianggap tidak memiliki akses maupun wewenang untuk memverifikasi berkas yang dibuat atau dikeluarkan oleh lembaga negara.

Pemain hanya mematuhi prosedur resmi dengan menyerahkan dokumen pribadi, hadir di depan otoritas Malaysia, menjalani pengucapan sumpah, dan menerima paspor dari pemerintah sebelum menunggu pemeriksaan kelayakan oleh Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM).

"Semua tindakan dilakukan oleh lembaga yang berada di luar kendali mereka. Namun, kini mereka menghadapi penundaan dari klub serta konsekuensi berat yang bukan disebabkan oleh kesalahan mereka sendiri," tulis FIFPRO.

Namun, penyelidikan oleh FIFA menunjukkan adanya ketidaksesuaian informasi dalam beberapa dokumen pendukung, khususnya akta kelahiran kakek-nenek pemain yang disampaikan oleh FAM.

Postingan FIFPRO melalui akun X resmi mereka kemudian mendapat banyak komentar dengan nada negatif dari netizen.

“Adil bagi FIFPRO, serikat pemain sepak bola, untuk melindungi semua pemain dari eksploitasi dan perlakuan tidak adil. Namun, ketujuh pemain tersebut setuju bermain untuk Malaysia meskipun sebelumnya tidak mengetahui hubungan mereka dengan negara tersebut. Aneh untuk membenarkan hal ini,” tulis @SerojaSinar.

Selain itu, terdapat pula komentar yang mengingatkan kembali kasus FIFPRO terkait Zlatan Ibrahimovic, di mana namanya dan wajahnya digunakan dalam FIFA EA Sport tanpa izin.

Dilansir dari New Straits Times(2/12), dalam laporan resmi berjudul Pemberitahuan Alasan Putusan pada 6 Oktober 2025, FIFA menyimpulkan adanya pelanggaran Pasal 22 Kode Disiplin terkait pemalsuan dan perubahan dokumen.

Namun, FAM menyatakan pada 7 Oktober bahwa seluruh dokumen diperoleh melalui prosedur yang sah.

Di sisi lain, Menteri Dalam Negeri Malaysia, Saifuddin Nasution Ismail pada 9 Oktober menegaskan bahwa proses pemberian kewarganegaraan terhadap tujuh pemain tersebut sepenuhnya sesuai dengan konstitusi.

Tensi semakin memuncak setelah FIFA mengeluarkan laporan sebanyak 64 halaman pada 18 November 2025 yang menyebut nama Nicolas Puppo dan Frederico Moraes sebagai pihak yang terlibat dalam penyusunan dokumen kelayakan yang akhirnya terbukti palsu.

FIFA juga menyoroti peran Sekretaris Jenderal FAM, Datuk Noor Azman Rahman dan menyarankan pemeriksaan lebih lanjut.

Di sisi lain, FIFPRO menyatakan dukungan penuh terhadap para pemain dan berharap Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) akan mencabut keputusan yang dianggap tidak adil.

Posting Komentar